Jakarta, INDIEnews -Indonesia Financial Group (IFG) Progress menyatakan bahwa perkembangan industri asuransi umum di Indonesia tergolong underdeveloped dengan tingkat penetrasi dan densitas yang masih rendah. Padahal, potensi pasar industri asuransi umum masih memiliki peluang untuk dikembangkan.

“Lini bisnis asuransi umum Indonesia terkonsentrasi pada tiga sektor yang erat kaitannya dengan volatilitas business cycle, yaitu industri kendaraan bermotor, properti, dan kredit perbankan,” kata Reza Yamora Siregar, Head/Senior Executive Vice President IFG Progress, saat Editors Gathering IFG Progress di Graha CIMB Niaga, Jakarta Selatan, Senin (7/3/2022).

Baca Juga: IFG Progress: Perekonomian Riil Indonesia Sangat Tergantung pada Sentimen Pasar

Kondisi ini membuat kinerja industri asuransi umum di Indonesia sangat bergantung pada kondisi makroekonomi, khususnya pertumbuhan ekonomi domestik dan pengeluaran per kapita. Sementara itu, kondisi financial deepening industri asuransi umum di Indonesia terbilang masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara advanced economies maupun dengan negara peers.

“Jika dilihat berdasarkan indikator penetrasi, premi asuransi umum di Indonesia hanya mencatatkan 0,5% dari nominal PDB (Produk Domestik Bruto) dan rata-rata pengeluaran premi masyarakat Indonesia sebesar US$17 terhadap produk asuransi umum,” tambah Reza.

Sebagai perbandingan, Korea Selatan memiliki rasio premi asuransi umum sebesar 5,2% terhadap PDB. Kemudian, disusul oleh Jerman dengan besar rasio 4%, Singapura dan Thailand 1,9%, dan Malaysia 0,9%.

“Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar asuransi umum di Indonesia masih tergolong underdeveloped dengan tingkat kesadaran dan utilitas masyarakat terhadap produk-produk asuransi umum masih sangat rendah, baik dari tingkat pengumpulan premi dan jumlah premi yang dikeluarkan,” jelas dia.

Adapun dari sisi aset, industri asuransi umum Indonesia hanya mencatatkan 1,3% terhadap PDB. Angka ini masih lebih rendah dibanding dengan negara tetangga, yaitu Thailand (3,0%) dan Malaysia (2,9%).

Melihat kondisi ini, IFG Progress menilai perlu adanya kestabilan perekonomian guna memitigasi risiko sistemik yang mungkin dihasilkan dari kinerja sektor asuransi umum. Sementara itu, IFG Progress akan meninjau lebih dalam sektor asuransi kredit ke depannya lantaran data historical menunjukkan lini bisnis credit insurance memiliki level profitabilitas terendah jika dibandingkan lini bisnis lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *