Jakarta, INDIEnewsIFG Progress dalam risetnya menyatakan bahwa dana investasi unit link baru terbentuk pada tahun kelima, itu pun kurang dari 15%. Kendati unit link merupakan produk asuransi dengan unsur utama proteksi, struktur biaya mesti ditekan agar porsi investasi tidak tergerus habis.

Seperti yang diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri sedang meramu aturan terbaru mengenai unit link yang menjadi bagian dari produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI). Aturan berupa Surat Edaran (SE) itu nantinya bakal ikut mengatur besaran alokasi minimum dari dana investasi unit link.

Baca Juga: Kinerja Industri Asuransi Umum RI Underdeveloped, IFG Progress: Terlalu Bergantung pada Makroekonomi

Selama ini, besaran minimum dari porsi premi dibayarkan ke dana investasi belum diatur, begitu juga besaran premi bagi aspek proteksi. OJK menilai hal itu mendorong terjadi pertanggungan yang seharusnya tidak diperlukan oleh pemegang polis atau nasabah. Lebih lanjut, pengalaman selama ini menemukan dana investasi nasabah pun terkikis habis.

Sebagai ilustrasi, nasabah dengan usia muda yang memiliki risiko lebih rendah seharusnya memiliki alokasi pada dana investasi lebih besar dibandingkan dana untuk keperluan proteksi. Bukan sebaliknya, sehingga dana tunai tidak berkembang baik dan malah habis.

Berkaca pada negara-negara lain, OJK memang belum bisa memastikan besaran minimal penempatan pada unsur investasi. Namun demikian, besaran dana investasi bisa mencapai 40-50% seperti yang diterapkan sejumlah negara lain. Saat ini OJK masih mengkaji besaran tersebut.

Alasan OJK itu nampaknya sejalan dengan riset IFG Progress berjudul Unit Link 101. Research Associate IFG Progress Rosi Melati menyampaikan, dengan memakai metode observasi front-end load, biaya akuisisi pada lima tahun pertama produk unit link secara rata-rata mencapai 35% per tahun, biaya asuransi sekitar 41%-57% per tahun, besarnya biaya asuransi akan bergantung kepada usia, jenis kelamin, penyakit bawaan dan manfaat tambahan yang dipilih.

Sedangkan biaya administrasi yang dikenakan sekitar 2%-3% per tahun. Tingginya biaya biaya pada lima tahun pertama membuat porsi dana investasi yang terbentuk relatif kecil, dibawah 15% dari total premi yang sudah dibayarkan.

“Cara agar alokasi investasi ini lebih besar tentu dengan menekan struktur biaya-biaya. Demikian berdasarkan hasil studi yang sudah kami lakukan,” jelas Rosi di sela-sela acara Media Gathering di Jakarta, Senin (7/3).

Dia menerangkan, diperlukan evaluasi dan revisi struktur biaya dari produk unit link. Struktur biaya yang relatif tinggi ini berdampak terhadap kinerja produk unit link secara umum. Analisa IFG Progress menunjukkan bahwa kinerja dari porsi investasi dari produk unit link belakangan ini relatif dibawah performa benchmark IHSG dan ICBI.

“Apabila tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin future customers atau investors lebih memilih produk tradisional asuransi dan produk investasi secara terpisah, tidak dalam bentuk produk unit link. Pada akhirnya ini akan berdampak pada proses pengembangan sektor asuransi di Indonesia,” ungkap Rosi.

Apalagi jika mengingat bahwa ada sebanyak 4,9 juta polis dengan 5,5 juta tertanggung yang telah menikmati kehadiran unit link dalam kurun 2016-2020. Manfaat yang dibayarkan perusahaan asuransi jiwa kepada penerima manfaat itu mencapai Rp 335 triliun.

Adapun dalam simulasi yang dibuat IFG progress, produk unit link yang dibeli harus memiliki kinerja investasi minimum sebesar 3% per tahun dan diperlukan imbal hasil yang stabil untuk mencapai break even point. Itu pun bisa dicapai jika memakai ilustrasi pembayaran premi selama 50 tahun. Seperti yang diketahui, premi unit link sebaiknya tidak pernah putus untuk dibayarkan agar hasil yang diperoleh maksimal.

Dia menuturkan, ada sebanyak 72% nasabah unit link yang memilih untuk mengalokasikan dananya pada instrumen saham. Ada kecenderungan bahwa saham dipilih meski memiliki risiko tinggi, dengan harapan bisa mendapat imbal hasil besar. Menurut Rosi, hal itu akan menjadi masalah untuk mereka yang tidak memahami situasi pasar modal.

Pada akhirnya, sambung dia, informasi dan pemahaman mengenai struktur biaya, potensi skenario risiko dan hasil investasi wajib dijelaskan oleh pihak agen pemasar dan oleh calon pemegang polis unit link. Sehingga penting untuk meningkatkan standar dan pengetatan proses kualifikasi untuk dapat menjadi bagian dari unit atau agen pemasaran dari produk asuransi dan unit link

.”Pengawasan secara berkala pada kinerja produk unit link dan evaluasi dari kebijakan yang ada juga menjadi bagian penting dari pengembangan produk unit link secara spesifik dan industri asuransi jiwa pada umumnya,” beber Rosi.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama Indonesia Financial Group (IFG) Hexana Tri Sasongko menegaskan, unsur proteksi mesti lebih dulu ditekankan dari produk unit link, di samping unsur investasi. Isi produk unit link dan pengelolaannya terus berkembang sejak hadir di Indonesia pada tahun 2000 sampai kini hadir tiga skenario yang perlu dipahami nasabah yaitu pesimistis, moderat, dan optimistis.

Sayangnya, kata dia, banyak agen pemasar yang hanya menawarkan skenario optimistis, tanpa menjelaskan skenario pesimistis dan moderat. Hal itu diperparah hanya dengan hanya menjelaskan kinerja historis pertumbuhan saham, tanpa menjelaskan potensi saham yang juga bisa terkoreksi.

“Kenyataan seperti itu. Jadi memang tidak boleh sembarang agen yang boleh menjual unit link. Sayangnya, si pembeli juga intensinya melihat suku bunga deposito yang rendah mencari alternatif investasi, bertemu unit link, dan menganggap unit link sebagai produk investasi yang padahal produk asuransi berbasis proteksi,” ungkap Hexana.

Per 31 Oktober 2021, total jumlah dana kelolaan unit link tercatat sebesar Rp 235,1 triliun. Dana di pasar unit link Indonesia hampir seluruhnya ditempatkan dalam denominasi IDR dengan persentase sebesar 92% dari total keseluruhan dana kelolaan. Artinya, hampir seluruh dana di pasar unit link Indonesia memiliki risiko nilai tukar yang relatif terbatas.

Produk saham mendominasi baik pada pasar unit link IDR maupun US$ dengan persentase masing masing mencapai 72% dan 56% dari total keseluruhan dana kelolaan. Untuk produk unit link berisiko rendah, alokasi investasi banyak ditempatkan pada instrumen pendapatan tetap. Penempatan dana pada instrumen pendapatan tetap dalam denominasi US$ tercatat relatif besar yakni sekitar 33%.

Di sisi lain, OJK mencatat bahwa pengaduan akan unit link terus meningkat dari tahun ke tahun. Hingga kuartal I-2021 tercatat pengaduan mencapai 273 aduan. Mayoritas dalam pengaduan ini dilatarbelakangi oleh permasalahan mis-selling oleh agen asuransi. Mengingat tren pengaduan yang terus tinggi, pengawasan alur proses unit link dari fase pemasaran hingga pengelolaan dana masih perlu diperkuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *