Menu

Otomatis
Breaking News

Ekobis

Penguatan Kelembagaan KUB Nelayan Untia Melalui Literasi Keuangan Digital dan Manajemen Usaha

badge-check

Penguatan Kelembagaan KUB Nelayan Untia Melalui Literasi Keuangan Digital dan Manajemen Usaha Perbesar

MAKASSAR – Upaya meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat pesisir tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan modal, tetapi juga membutuhkan penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta kemampuan mengelola usaha secara profesional. Berangkat dari semangat tersebut, dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) melaksanakan program “Penguatan Kelembagaan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Melalui Literasi Keuangan Digital dan Manajemen Usaha” di Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.

Kegiatan ini dilaksanakan sebanyak dua kali dalam bulan Juni dan Juli yaitu Sosialisasi PKM (13/6), Pelatihan Literasi Keuangan Digital (29/6), Pelatihan Manajemen Usaha (4/7), Monitoring dan Evaluasi Hasil Pelaksanaan PKM (18/7). Seluruh rangkaian kegiatan merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi Universitas Muslim Indonesia, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Program tersebut diarahkan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat pesisir melalui transfer pengetahuan, pendampingan, dan penguatan tata kelola usaha agar kelompok nelayan tidak hanya mampu menjalankan aktivitas ekonomi, tetapi juga memiliki kelembagaan yang lebih tertata, mampu mengelola keuangan dengan baik, serta dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan pasar.

Program PKM ini diketuai oleh Dr. Hj. Budiandriani, S.E., M.M., dengan anggota Prof. Dr. H. Mahfudnurnajamuddin, S.E., M.M. dan Dr. Tasrik Hasrat, S.S., M.M. Ketiganya merupakan dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang berkolaborasi memberikan pelatihan dan pendampingan kepada 10 anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Untia sebagai peserta utama selama seluruh rangkaian kegiatan.

Keterlibatan dosen UMI dalam program ini merupakan bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Pengetahuan akademik yang dimiliki tim tidak hanya disampaikan dalam bentuk teori, tetapi diterjemahkan menjadi materi dan praktik yang sesuai dengan kondisi usaha masyarakat pesisir. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara pengetahuan akademik dan kebutuhan praktis masyarakat.

Menurut tim pelaksana, penguatan kelembagaan menjadi penting karena keberlanjutan usaha kelompok tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan modal, tetapi juga oleh kemampuan anggota dalam merencanakan, mengelola, mencatat, dan mengevaluasi kegiatan usaha. KUB yang memiliki tata kelola yang baik akan lebih mudah membangun kepercayaan antaranggota, mengembangkan jaringan usaha, serta membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak.

Rangkaian program diawali dengan sosialisasi yang bertujuan memperkenalkan tujuan, manfaat, dan tahapan pelaksanaan kegiatan. Pada sesi ini, peserta bersama tim PKM mendiskusikan berbagai tantangan yang selama ini dihadapi dalam pengelolaan usaha, mulai dari pencatatan keuangan yang belum tertib, pencampuran keuangan usaha dengan keuangan rumah tangga, pengelolaan usaha yang masih sederhana, hingga keterbatasan pemanfaatan teknologi digital.

Sosialisasi juga menjadi ruang dialog antara dosen UMI dan masyarakat pesisir. Peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman, kebutuhan, serta kendala yang mereka hadapi dalam menjalankan usaha. Pendekatan partisipatif tersebut menjadi dasar bagi tim dalam memberikan materi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan KUB Nelayan Untia.

Tahap berikutnya difokuskan pada pelatihan literasi keuangan digital. Peserta memperoleh pembekalan mengenai pentingnya memisahkan keuangan usaha dan rumah tangga, mencatat pemasukan dan pengeluaran, menyusun laporan keuangan sederhana, membuat anggaran usaha, serta memanfaatkan aplikasi digital untuk mendukung pencatatan transaksi.

Literasi keuangan digital tidak hanya diarahkan agar peserta mampu menggunakan teknologi, tetapi juga membangun kebiasaan mengelola keuangan secara lebih disiplin dan transparan. Dengan pencatatan yang baik, anggota KUB dapat mengetahui kondisi keuangan usaha, mengidentifikasi biaya yang tidak efisien, menghitung keuntungan, serta menentukan kebutuhan modal secara lebih rasional.

Kemampuan tersebut diharapkan dapat membantu anggota KUB mengelola arus kas, mengevaluasi kinerja usaha, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi keuangan yang lebih akurat. Dalam jangka panjang, pencatatan keuangan yang tertib juga dapat menjadi dasar bagi kelompok untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan akses terhadap berbagai sumber pembiayaan.

Selain literasi keuangan, tim dosen UMI memberikan pelatihan manajemen usaha yang menitikberatkan pada penguatan kapasitas kewirausahaan. Materi meliputi perencanaan usaha, pengelolaan produksi, pengendalian biaya, strategi pemasaran, pelayanan pelanggan, pengembangan produk, hingga penyusunan strategi peningkatan daya saing.

Peserta juga didorong untuk melihat kegiatan ekonomi nelayan tidak hanya sebagai aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi sebagai usaha yang memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan. Pengelolaan usaha yang lebih baik diharapkan dapat mendorong anggota KUB menciptakan nilai tambah dari hasil perikanan serta memperluas peluang pemasaran.

Dalam konteks ekonomi digital, kemampuan memasarkan produk juga menjadi semakin penting. Pemanfaatan media sosial dan berbagai saluran digital dapat membuka akses pasar yang lebih luas, tidak hanya bergantung pada konsumen di sekitar wilayah tempat tinggal. Karena itu, digitalisasi tidak hanya dipahami sebagai penggunaan aplikasi keuangan, tetapi juga sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha dan pemasaran.

Seluruh kegiatan dilaksanakan secara interaktif melalui metode ceramah, diskusi, studi kasus, dan praktik langsung. Pendekatan tersebut memungkinkan peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga mencoba menerapkannya pada kondisi usaha yang mereka jalankan.

Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya keterlibatan dalam sesi diskusi, tanya jawab, dan praktik. Berbagai pertanyaan yang muncul menunjukkan bahwa peserta mulai melihat pentingnya pencatatan keuangan, perencanaan usaha, dan pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari pengembangan usaha KUB.

Berdasarkan hasil evaluasi, program menunjukkan peningkatan pemahaman peserta mengenai pentingnya literasi keuangan digital dan manajemen usaha sebagai fondasi penguatan kelembagaan KUB. Peserta juga menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai pemisahan keuangan usaha dan rumah tangga, pencatatan transaksi, penyusunan perencanaan usaha, serta pentingnya evaluasi kegiatan usaha.

Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan pelatihan selesai. Keberhasilan program akan sangat ditentukan oleh kemampuan anggota KUB menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan usaha sehari-hari. Karena itu, penguatan kelembagaan diarahkan menjadi proses yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan pelatihan satu kali.

Ketua Tim PKM, Dr. Hj. Budiandriani, S.E., M.M., menegaskan bahwa penguatan kelembagaan merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan kelompok usaha nelayan yang mandiri dan berdaya saing.

“Melalui kegiatan ini kami berharap anggota KUB tidak hanya memiliki kemampuan teknis dalam menjalankan usaha, tetapi juga mampu mengelola keuangan secara digital, menyusun strategi bisnis yang lebih baik, serta membangun kelembagaan kelompok yang kuat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para nelayan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa transformasi digital harus diikuti dengan peningkatan kemampuan pengelolaan usaha. Teknologi akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakannya dalam mendukung kegiatan ekonomi.

Program ini juga diharapkan memberikan dampak yang lebih luas bagi keluarga anggota KUB. Pengelolaan usaha yang lebih tertib dapat membantu keluarga mengetahui kondisi pendapatan dan pengeluaran secara lebih jelas, merencanakan kebutuhan usaha, serta mengambil keputusan ekonomi secara lebih terukur. Dengan demikian, peningkatan kapasitas kelompok diharapkan berkontribusi terhadap penguatan ekonomi rumah tangga nelayan.

Bagi Universitas Muslim Indonesia, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk implementasi peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis pengetahuan bagi masyarakat. Kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga menjadi mitra masyarakat dalam membangun kemandirian dan meningkatkan kualitas kehidupan sosial-ekonomi.

Ke depan, penguatan KUB Nelayan Untia diharapkan dapat dikembangkan melalui pendampingan yang lebih berkelanjutan, khususnya dalam penerapan pencatatan keuangan digital, pengembangan produk, pemasaran, serta penguatan administrasi dan kelembagaan kelompok. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan dapat benar-benar menjadi kebiasaan dan bagian dari sistem pengelolaan usaha KUB.

Program ini diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat pesisir yang menempatkan literasi keuangan, digitalisasi, dan penguatan kelembagaan sebagai tiga fondasi penting dalam membangun kemandirian ekonomi. KUB Nelayan Untia diharapkan semakin mampu meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, menciptakan nilai tambah hasil perikanan, dan membangun usaha yang lebih berkelanjutan.

Melalui kolaborasi antara Universitas Muslim Indonesia dan masyarakat pesisir, kegiatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada pemberian pengetahuan, tetapi harus diarahkan pada perubahan kapasitas dan kemandirian. Penguatan kelembagaan KUB pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana kelompok menjalankan usaha hari ini, tetapi juga bagaimana kelompok tersebut mampu bertahan, berkembang, dan menciptakan peluang ekonomi bagi anggotanya di masa depan.

Dengan demikian, KUB Nelayan Untia diharapkan tidak hanya menjadi wadah kerja sama ekonomi, tetapi berkembang menjadi kelembagaan usaha yang profesional, adaptif, mandiri, dan berdaya saing di tengah perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Semarak HUT RI, Pelindo Group Wilayah Kerja Makassar Perkuat Kolaborasi

14 Agu 2026 - 11:49 WITA

Semarak HUT RI, Pelindo Group Wilayah Kerja Makassar Perkuat Kolaborasi

Raih Awards Otomotif 2026, Kalla Toyota Buktikan Nilai Inovasi Pelayanan dan Kepercayaan Pelanggan di Sulawesi Selatan

13 Agu 2026 - 19:27 WITA

Raih Awards Otomotif 2026, Kalla Toyota Buktikan Nilai Inovasi Pelayanan  dan Kepercayaan Pelanggan di Sulawesi Selatan

Pangdam XIV/Hsn Bekali Mahasiswa Baru FIB Unhas dengan Wawasan Kebangsaan, Pesannya Menggugah Generasi Muda

13 Agu 2026 - 10:39 WITA

Pangdam XIV/Hsn Bekali Mahasiswa Baru FIB Unhas dengan Wawasan Kebangsaan, Pesannya Menggugah Generasi Muda

Pangdam XIV/Hsn Kobarkan Wawasan Kebangsaan di Hadapan Mahasiswa Baru UNM: Masa Depan Indonesia Ada di Tangan Kalian!

13 Agu 2026 - 10:31 WITA

Pangdam XIV/Hsn Kobarkan Wawasan Kebangsaan di Hadapan Mahasiswa Baru UNM: Masa Depan Indonesia Ada di Tangan Kalian!

Sinergi Data Perpajakan, KP2KP Masamba dan Bapenda Luwu Utara Gali Potensi Pajak Bersama

13 Agu 2026 - 09:46 WITA

Sinergi Data Perpajakan, KP2KP Masamba dan Bapenda Luwu Utara Gali Potensi Pajak Bersama
Trending di Ekobis